Di tengah suasana duka yang menyelimuti Sekte Api Langit, para tetua berkumpul di aula utama, mencoba mencari solusi atas kondisi sekte yang semakin rapuh. Murid-murid berbisik di sudut-sudut ruangan, masih diliputi ketakutan dan kebingungan setelah semua yang terjadi.

"Kita harus mencari tahu siapa pria yang menyelamatkan kita," ujar salah satu Tetua dengan nada tegas. "Jika dia benar-benar sekutu, kita perlu menjalin hubungan dengannya. Tapi jika tidak..."

Tetua lainnya menyela dengan wajah serius, "Kita tidak bisa lengah. Orang yang mampu mengalahkan ranah Immortal dengan mudah bukanlah sosok biasa. Jika dia punya niat tersembunyi, kita tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya."

Mendengar itu, beberapa tetua mengangguk setuju. Situasi sekte saat ini terlalu lemah untuk menghadapi ancaman baru.

"Sepertinya hanya Li Wei yang mengenalinya. Aku akan menemuinya untuk menanyakan sekaligus mencari tahu kondisi Ling Mei." Kata tetua Lian, salah seorang tetua wanita lainnya. Lalu dia pergi meninggalkan para tetua.

"Bersama mereka tidak akan memberikan solusi apapun" batinnya menyatakan ketidakpuasannya.

Tetua Lian mendatangi salah satu paviliun yang terletak di dalam sekte, Tetua Lian, melangkah menuju sebuah kamar tempat Ling Mei dirawat. Di dalamnya, Li Wei duduk di samping ranjang, dengan wajah penuh kekhawatiran saat melihat kondisi Ling Mei yang masih belum sadar.

Tetua Lian mengetuk pintu perlahan sebelum masuk. "Li Wei."

Li Wei segera bangkit dan memberi hormat. "Tetua Lian."

Tetua itu menatap Ling Mei sejenak sebelum menghela napas. "Bagaimana keadaannya?"

Li Wei menjawab dengan suara pelan, "Kak Ling Mei masih belum sadarkan diri. Tuan penolong mengatakan racun di tubuhnya sudah hilang dan luka-luka di tubuhnya sudah di sembuhkan, tetapi jiwanya masih terluka parah, karena itu Kak Ling Mei belum sadarkan diri."

"Dengan racun penyedot jiwa, masih bisa hidup saja sudah luar biasa apalagi bisa memusnahkan racun di tubuhnya. Lalu apa kata tuan penolong?" tanya tetua Lian dengan penasaran.

"Tuan penolong mengatakan yang ia butuhkan sekarang adalah Rumput Jiwa tingkat tinggi berusia seribu tahun atau lebih untuk benar-benar pulih." jawab Li Wei.

Tetua Lian mengerutkan kening. "Rumput Jiwa dengan usia seperti itu sangat langka. Bahkan di Sekte Api Langit, kami tidak memilikinya. Selain itu jika bukankah memerlukan alchemist tingkat sembilan untuk dapat memurnikannya menjadi pil?"

"Apa tetua? Apakah anda serius? Alchemist tingkat sembilan? dimana kita mencarinya. Bukankah di kerajaan juga hanya ada alchemist tingkat lima?" Li Wei bertanya dengan kaget. Li Wei menggigit bibirnya, merasa frustasi karena ternyata masalahnya bukan hanya terletak di tanaman, tetapi juga mencari orang yang dapat memurnikannya.

"Xiao Ling memang kuat, tetapi dia bukanlah alchemist. Apa yang harus dilakukan sekarang?" batinnya dengan khawatir.

Li Wei menundukkan kepala, sedikit kecewa. Tapi ia tetap menjaga ekspresi tenangnya. "Tetua, jika nanti tetua mendengar sesuatu tentang tanaman itu, tolong beri tahu. Tuan penolong mungkin tahu apa yang harus dilakukannya."

Tetua Lian menganggukkan kepala."Baiklah aku akan memberitahumu. Tetapi apakah kamu bisa menghubungi orang itu lagi atau dia mengatakan akan kesini lagi?"

"Betul tetua, dia mengatakan akan kesini lagi untuk melihat kondisi kak Ling Mei," jawab Li Wei sambil memandang Ling Mei. Dia bisa melihat kekhawatiran yang sangat besar dari sorot mata Xiao Ling.

Tetua Lian sambil menghembuskan napas seolah berusaha melepaskan beban berat di pundaknya. Lalu dia menatap Li Wei lebih dalam. "Aku juga ingin bertanya sesuatu yang lain. Ketika orang misterius tersebut membantu kita, kami melihat kamu berbicara dengannya dengan akrab. Apakah kamu tahu siapa dia?"

Li Wei tetap menjaga ekspresinya tetap tenang, meski di dalam hatinya ia merasa sedikit tertekan. Ia mengingat pesan Xiao Ling sebelum pergi—jangan biarkan siapa pun mengetahui identitasnya. Li Wei tahu bahwa Xiao Ling bukan orang biasa, dan kekuatannya yang luar biasa pasti akan menarik perhatian banyak pihak. Jika sekte lain atau pihak berkepentingan mendengar tentang kekuatannya, bukan hanya Xiao Ling yang akan dalam bahaya, tapi juga orang-orang di sekitarnya.

"Aku tidak mengenalnya secara pribadi," jawab Li Wei akhirnya. "Aku hanya pernah bertemu dengannya sebelumnya, saat dia menolongku ketika aku sedang mencari tanaman spiritual untuk kakakku yang sakit."

Tetua Lian menatapnya lebih lama, seolah mencoba mencari kebohongan dalam perkataannya. "Jadi, kamu tidak tahu siapa dia? Dari mana asalnya?"

Li Wei menggeleng. "Aku benar-benar tidak tahu," jawabnya dengan nada datar.

Tetua Lian terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas pelan. "Baiklah. Kalau begitu, jika Ling Mei menunjukkan tanda-tanda perubahan, segera beritahu aku atau para tetua lainnya."

"Tentu, Tetua," jawab Li Wei sambil membungkuk hormat.

Saat Tetua Lian berbalik meninggalkan ruangan, Li Wei akhirnya bisa sedikit bernapas lega. "Syukurlah aku berhasil menjaga rahasia Xiao Ling, setidaknya untuk saat ini. Tapi darimana Xiao Ling bisa mendapatkan pakaian seperti itu?" pikirnya. Meski pertemuan singkat, ia sangat mengetahui karakter Xiao Ling yang tidak pamrih dan suka menolong dengan ikhlas, serta tidak ingin diketahui orang lain mengenai kemampuannya. Namun, di dalam hatinya, ia tahu bahwa cepat atau lambat, dunia akan mengetahui tentang keberadaan sosok kuat itu—dan saat saat itu tiba, segalanya mungkin akan menjadi lebih rumit.

Sekembalinya tetua Lian keruangan para tetua berkumpul, terlihat tatapan semua para tetua tertuju kepadanya.

"Bagaimana tetua Lian? Apakah kamu mendapatkan informasi?' tanya salah satu tetua dengan tidak sabar.

Tetua Lian menggelengkan kepalanya."Li Wei tidak mengenalinya, dia hanya pernah bertemu secara tidak sengaja karena orang tersebut pernah menolongnya. Selain itu orang misterius tersebut sudah menyembuhkan racun yang di derita Ling Mei."

"Racunnya sudah di sembuhkan? Betulkan itu tetua? Racun itu sudah membunuh banyak orang dan tanpa penawarnya, tidak ada yang bisa selamat. Selain itu setelah terkena racun, efek yang diberikan juga tidak bisa disembuhkan dengan mudah." kata tetua lainnya.

"Aku sudah memeriksa nadinya, dan merasakan luka-luka di tubuhnya juga sudah pulih. Hanya saja jiwanya mengalami kerusakan. Orang misterius tersebut mengatakan dia memerlukan Rumput Jiwa tingkat tinggi berusia 1000 tahun untuk dapat membuat Ling Mei benar-benar pulih." Tetua Lian menjelaskan.

"Rumput jiwa seribu tahun? Tidak mudah menemukannya. Selain itu memurnikannya juga sangatlah sulit. Tidak ada alchemist tingkat sembilan di kerajaan kita, kecuali di kerajaan Jinghai, aku pernah mendengarnya, ada seorang alchemist tingkat tujuh beberapa tahun yang lalu, yang tidak terikat dan suka bertualang, selama sekian tahun ini sedang berada di kerajaan Jinghai. Aku tidak tahu tingkatannya saat ini sudah berapa. Hanya dia harapan kita." kata salah satu tetua lainnya.

"Baiklah, tentang hal ini bisa kita bicarakan nanti, sekarang kita harus memikirkan cara untuk menyelamatkan ketua sekte dan tetua Xie." Tetua Lian mengingatkan.

"Kami sudah membahasnya tadi, namun dengan kondisi kita seperti ini yang keracunan dan kehilangan kekuatan spiritual, kita hanya bisa berusaha menghubungi leluhur secepatnya. Hanya leluhur yang bisa menyelamatkan ketua sekte." kata salah satu tetua lainnya.

"Aku setuju, tetapi bagaimana cara menghubunginya? Hanya ketua sekte yang tahu cara menghubungi ketua sekte yang sebelumnya. Selain itu kita juga tidak mengetahui keberadaannya." Kata tetua Lian.

Di tengah suasana rapat menegangkan yang membahas nasib sekte, para tetua 'Sekte Api Langit merasa terkejut, karena tiba-tiba terdengar suara gaduh di halaman utama sekte. Para tetua segera keluar dengan cepat dengan perasaan khawatir. Kondisi mereka saat ini membuat mereka bisa dihancurkan oleh pihak manapun. Namun mereka terkejut saat melihat seorang wanita tua dengan tubuh penuh luka berjalan tertatih masuk ke dalam sekte.

"Tetua Xie!" seru seorang murid dengan kaget.

Semua orang segera mengerumuninya. Tetua Xie tampak lemah, wajahnya pucat dan tubuhnya berlumuran darah kering. Dia terlihat sedang berusaha keras untuk dapat mencapai sekte setelah mengalami pertempuran sengit sebelumnya.

"Tetua Xie, bagaimana Anda bisa kembali?! Di mana Ketua Sekte?!" salah seorang tetua bertanya dengan panik.